Sumenep – Pemerintah Kabupaten Sumenep terus mempertegas komitmennya dalam menjadikan budaya lokal sebagai pilar utama pembangunan daerah. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Ketupat 2026 yang berlangsung di kawasan wisata Pantai Lombang, Kamis (26/3/2026).
Festival yang digelar usai perayaan Hari Raya Idulfitri ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga dikembangkan sebagai event strategis untuk menggerakkan sektor pariwisata sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).


Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Ferdiansyah Tetrajaya, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Festival Ketupat memiliki makna yang sangat luas, tidak hanya dari sisi budaya, tetapi juga sosial dan ekonomi. Ia membacakan sambutan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, yang menekankan pentingnya menjadikan tradisi lokal sebagai kekuatan pembangunan.
Menurutnya, tradisi lebaran ketupat merupakan simbol nilai-nilai luhur yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat, seperti rasa syukur, kebersamaan, serta semangat mempererat tali silaturahmi antarwarga. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan sosial sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.


“Festival Ketupat ini harus kita dorong menjadi event unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat, terutama para pelaku UMKM,” ungkap Ferdiansyah.
Ia juga menegaskan bahwa kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Sumenep merupakan aset berharga yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Oleh karena itu, pemerintah daerah mendorong agar setiap penyelenggaraan festival dikemas secara lebih inovatif dan kreatif, sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.
Dengan pengemasan yang menarik, Festival Ketupat diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, baik dari dalam daerah maupun luar daerah. Hal ini tentu akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, terutama di sektor perdagangan, kuliner, dan industri kreatif masyarakat.


Selain sebagai ajang hiburan dan promosi wisata, festival ini juga memiliki peran penting sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda. Pemerintah berharap, melalui kegiatan ini, generasi penerus dapat lebih mengenal, mencintai, serta melestarikan tradisi yang menjadi warisan leluhur.
Ferdiansyah juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan kegiatan budaya seperti Festival Ketupat. Keterlibatan aktif dari berbagai elemen, mulai dari perangkat daerah, komunitas budaya, pelaku usaha, hingga generasi muda, menjadi kunci utama keberhasilan penyelenggaraan acara tersebut.


Dengan sinergi yang kuat dan pengelolaan yang profesional, Pemerintah Kabupaten Sumenep optimistis Festival Ketupat dapat menjadi ikon pariwisata berbasis budaya yang memiliki daya saing tinggi. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan dampak berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.
Melalui Festival Ketupat 2026, Pemkab Sumenep kembali menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga tentang membangun masa depan daerah yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing melalui kekuatan kearifan lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page