SAMPANG —hari Rabu.13/05/2026 Sejumlah wali murid dan tokoh masyarakat di Desa Lepelle, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, menyuarakan keresahan mereka terkait pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) di SMP Plus Darul Ulum. Mereka mensinyalir adanya ketidakberesan dalam laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah untuk periode tahun anggaran 2023 hingga 2025.

Perwakilan wali murid yang enggan disebutkan namanya demi keamanan sang anak, mengungkapkan bahwa kecurigaan ini bermula dari kontrasnya kondisi fasilitas dan kegiatan di sekolah dengan laporan pengeluaran yang diajukan pihak sekolah.

“Kami mendesak pihak sekolah, terutama Kepala Sekolah, untuk memberikan penjelasan yang jujur dan transparan kepada kami para wali murid yang selama ini menitipkan anak-anak kami di sana,” ujarnya kepada awak media.

Poin-Poin Kejanggalan yang Dipertanyakan Warga

Berdasarkan salinan laporan realisasi anggaran sekolah yang berhasil dihimpun oleh warga, terdapat beberapa kejanggalan yang dinilai tidak masuk akal sehat:

1. Pembayaran Honor Guru yang Terus Merosot

Para wali murid mempertanyakan mengapa porsi anggaran untuk honorarium guru dan tenaga kependidikan terus merosot tajam selama tiga tahun terakhir.

Kekhawatiran Warga: Penurunan biaya honor yang sangat drastis ini dikhawatirkan berdampak langsung pada kesejahteraan para guru dan kualitas mengajar di kelas. Warga mempertanyakan apakah ada pemotongan hak para pengajar atau pengurangan guru secara sepihak yang tidak diketahui wali murid.

2. Penggelembungan Biaya Administrasi Kegiatan

Di tengah penurunan anggaran operasional sekolah secara keseluruhan, biaya untuk administrasi kegiatan sekolah justru melonjak sangat tajam hingga beberapa kali lipat dari tahun sebelumnya.

Kekhawatiran Warga: Wali murid menilai lonjakan biaya administratif ini sangat tidak masuk akal karena tidak ada kegiatan sekolah yang bertambah secara signifikan dalam kurun waktu tersebut.

3. Lonjakan Biaya Pemeliharaan Sarana dan Prasarana

Warga menyoroti adanya kenaikan biaya pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah yang melambung hingga sepuluh kali lipat.

Kekhawatiran Warga: Kenaikan yang sangat tinggi ini dianggap tidak sejalan dengan realitas fisik di sekolah. Warga menduga anggaran ini hanya dialokasikan di atas kertas demi menyerap anggaran belanja, tanpa ada perbaikan fasilitas sekolah yang nyata secara fisik.

4. Misteri Pengadaan Alat Pembelajaran Multimedia

Pada tahun anggaran 2024, sempat dianggarkan dana khusus untuk pengadaan alat multimedia pembelajaran. Namun, pos anggaran ini langsung hilang pada tahun berikutnya.

Kekhawatiran Warga: Wali murid menuntut bukti nyata keberadaan fisik dari alat-alat multimedia tersebut di sekolah, guna memastikan bahwa anggaran tersebut tidak mengalir ke pengadaan fiktif.

5. Laporan Keuangan yang Selalu Habis Tanpa Sisa (Zero Balance)

Kejanggalan terbesar yang ditemukan adalah laporan keuangan sekolah selama tiga tahun berturut-turut yang selalu habis secara sempurna tanpa menyisakan saldo sepeser pun.

Kekhawatiran Warga: Warga menilai laporan keuangan yang selalu habis pas di angka nol tersebut sangat mencurigakan. Laporan itu diduga kuat sengaja direkayasa dan dipaksakan seimbang (forced balance) agar terlihat rapi secara administratif di mata dinas terkait.

Desakan Wali Murid ke Dinas Pendidikan Sampang.Menyikapi temuan ini, perwakilan wali murid menyatakan akan segera mengirimkan surat pengaduan masyarakat secara resmi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang dan Inspektorat Kabupaten Sampang agar segera dilakukan audit investigatif menyeluruh terhadap pengelolaan keuangan SMP Plus Darul Ulum.

Wali murid menegaskan, jika dalam waktu dekat tidak ada klarifikasi atau itikad baik dari pihak sekolah untuk membuka transparansi anggaran ini kepada publik, mereka tidak segan-segan membawa persoalan dugaan penyelewengan dana pendidikan ini ke ranah hukum.

“Ini hak anak-anak kami untuk mendapatkan pendidikan yang layak dengan ditopang anggaran negara yang dikelola secara jujur. Kami tidak ingin masa depan anak-anak kami dikorbankan demi kepentingan segelintir oknum,” tegas salah satu perwakilan warga menutup pembicaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page