
SAMPANG – Kondisi fisik UPTD SDN JELGUNG 3, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, saat ini menjadi sorotan tajam.konfirmasi tidak ada tanggapan dari pihak kpl sekolah Bagaimana tidak, di tengah kucuran Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang bernilai ratusan juta rupiah, bangunan sekolah justru tampak seperti bangunan tua yang terbengkalai.
Hasil pantauan lapangan dan tim investigasi SATGAB TKN-BASUPATI menemukan pemandangan yang menyayat hati bagi dunia pendidikan.
Dinding-dinding kelas nampak mengelupas parah, plafon yang rapuh, hingga besi coran penyangga bangunan yang sudah menyembul keluar dalam kondisi berkarat.
Kondisi ini dinilai bukan hanya tidak layak, namun mengancam keselamatan nyawa siswa dan guru yang beraktivitas di bawahnya.
Anomali Anggaran di Balik Reruntuhan
Ironisnya, berdasarkan data laporan penggunaan dana BOSP periode 2023-2025, ditemukan fakta yang bertolak belakang dengan kondisi fisik sekolah.
Pada tahun 2025, pos anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana justru dilaporkan membengkak menjadi Rp 36.359.000, naik dua kali lipat dari periode sebelumnya.
“Ini sangat tidak masuk akal. Anggaran pemeliharaan diklaim naik drastis, tapi di lapangan kita melihat besi coran sampai terlihat dan berkarat.
Kemana larinya uang itu? Apakah hanya dipelihara di atas kertas?” ujar Ketua Umum BASUPATI dengan nada geram.
Pernyataan Ketua Umum DPP STKP
“Kami melihat ada kontradiksi yang sangat menyakitkan di SDN Jelgung 3 ini.
Secara administratif di atas kertas, dana pemeliharaan itu dilaporkan mengalir setiap tahun, puncaknya 36 juta lebih di tahun 2025. Namun secara fisik, gedung ini seperti ‘rumah tak bertuan’.
Dinding mengelupas dan besi coran yang berkarat itu adalah saksi bisu bahwa anggaran pendidikan kita diduga kuat hanya jadi ‘bancakan’ di atas meja, sementara nyawa siswa dipertaruhkan di bawah atap yang rapuh.”
Pernyataan Sekjen TKN (Bakir, S.Pd.I)
“Logika sederhana saja, kalau setiap tahun ada anggaran perbaikan, minimal cat tidak kusam dan semen tidak rontok sampai memperlihatkan tulang besi. Kondisi ‘hancur lebur’ ini menunjukkan bahwa fungsi kontrol internal sekolah mati total.
Kami menuntut transparansi: tunjukkan pada kami titik mana yang mereka klaim telah diperbaiki dengan uang puluhan juta itu? Jangan sampai anggaran sarpras justru dialihkan untuk kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan fasilitas belajar siswa.”
Pernyataan Ketua Umum DPP BASUPATI (ASKUR, S.H., S.Pd.)
“Gedung yang tak terawat ini adalah potret nyata kegagalan manajerial. Besi coran yang sudah berkarat itu menandakan kerusakan sudah berlangsung lama dan dibiarkan.
Ini bukan sekadar masalah estetika bangunan, tapi ini adalah delik pidana pembiaran dan dugaan laporan fiktif.
Kami dari BASUPATI tidak akan tinggal diam melihat hak siswa untuk belajar di gedung yang layak dirampas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.”
Pernyataan Sekjen BASUPATI (KHOIRI, S.H)
“Kondisi sekolah ini sangat kontras dengan laporan keuangan yang kami bedah.
Ada anggaran yang disebut ‘pemeliharaan’, tapi hasilnya ‘nol besar’. Kami menduga kuat ada praktik manipulasi laporan keuangan (SPJ) yang tidak sinkron dengan realita lapangan.
Jika gedung tetap hancur tak bertuan padahal anggaran terserap habis, maka hanya ada satu kesimpulan: anggaran tersebut menguap ke kantong pribadi.
Ini yang akan kami kejar dalam Uji Petik nanti!”
Sorotan Mark-Up dan Pelaporan Defisit
Tak hanya masalah fisik gedung, tim investigasi juga mencium aroma busuk pada pos anggaran lain.
Terdapat lonjakan biaya asesmen tahun 2024 yang mencapai Rp 28,1 Juta, alias naik lebih dari 400%. Keanehan semakin lengkap dengan adanya laporan anggaran yang mengalami defisit (minus), sebuah kondisi yang secara regulasi sangat dilarang dan mengindikasikan adanya manipulasi data sistematis.
Somasi dan Uji Petik
Atas temuan tersebut, lembaga SATGAB TKN-BASUPATI secara resmi melayangkan Somasi Pertama dan Terakhir kepada Kepala UPTD SDN JELGUNG 3.
Mereka menuntut transparansi penuh dan bukti fisik penggunaan anggaran (SPJ) yang selama ini terkesan ditutup-tutupi.
“Jika dalam waktu 2×24 jam tidak ada tanggapan yang jelas, kami akan melakukan Uji Petik Lapangan secara besar-besaran bersama pihak berwajib.
Kami tidak akan membiarkan hak-hak siswa dirampok sementara mereka harus belajar di bawah ancaman gedung roboh,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepala Sekolah UPTD SDN JELGUNG 3 belum memberikan keterangan resmi terkait rusaknya fasilitas sekolah di tengah lonjakan anggaran pemeliharaan tersebut.
Masyarakat kini menunggu keberanian dinas terkait dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan “bancakan” dana pendidikan di Robatal ini.