Bertahun-tahun Jalan Menuju SMAN 1 Pule Rusak, Warga Pasang Spanduk Sindiran: “Rakyat Tidak Butuh Janji-Janji, yang Penting Bukti!”
TRENGGALEK – Kesabaran warga Desa Pule, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, mulai berada di ujung batas. Jalan yang menjadi akses menuju SMAN 1 Pule disebut telah mengalami kerusakan selama bertahun-tahun, namun hingga kini belum juga mendapatkan penanganan sebagaimana yang diharapkan masyarakat.
Ironisnya, jalan tersebut merupakan salah satu akses menuju lembaga pendidikan negeri. Setiap hari, pelajar, guru, orang tua maupun masyarakat harus melewati jalur yang kondisinya dikeluhkan rusak parah.
Kekecewaan warga akhirnya dituangkan melalui aksi protes dengan memasang spanduk di sekitar jalan. Pesan yang disampaikan pun terbilang keras.
“RAKYAT TIDAK BUTUH JANJI-JANJI, YANG PENTING BUKTI!!! JALAN MENUJU SMAN 1 PULE RUSAK PARAH TOLONG DIPERBAIKI!!!!”
Yang membuat spanduk tersebut semakin menyita perhatian adalah adanya gambar mulut dengan tulisan “ZONK! ZONK! ZONK!” di sekelilingnya.
Pesan tersebut seolah menjadi sindiran terbuka terhadap pemerintah: janji perbaikan sudah ada, tetapi masyarakat masih menunggu kapan janji itu benar-benar menjadi kenyataan.
“Dibilang Diperbaiki 2026, Tapi Sekarang Sudah September”
Kekecewaan warga semakin kuat lantaran pada spanduk lain terdapat keterangan bahwa jalan tersebut akan diperbaiki pada tahun 2026.
Namun, kalender kini telah memasuki September 2026.
“Jalan ini akan segera dibangun tahun 2026, tapi mboh kapan. Sekarang sudah September, Mas. Raonok perhatian, tapi tidak tahu kapan, karena tidak ada perhatian,” ujar salah satu warga.
Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan masyarakat yang mulai mempertanyakan kepastian realisasi perbaikan.
Bagi warga, persoalannya sederhana. Jika memang telah masuk agenda pembangunan tahun 2026, mereka ingin mengetahui kapan pekerjaan dimulai, kapan jalan dikerjakan, dan kapan masyarakat bisa menikmati akses yang layak.
Sebab, memasuki September, waktu terus berjalan. Sementara kondisi jalan yang dikeluhkan warga belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan sebagaimana yang mereka harapkan.
Sudah Bersurat Sejak 2020
Keluhan warga ternyata bukan persoalan baru. Salah satu perangkat Desa Pule mengungkapkan, pihak desa bahkan telah menyampaikan permohonan perbaikan kepada Dinas PUPR Kabupaten Trenggalek sejak sekitar 2020.
“Kejadian ini sudah 2020 lalu. Saat itu kami sudah berkirim surat permohonan ke Dinas PUPR Kabupaten Trenggalek agar jalan ini diperbaiki. Tapi hingga beberapa tahun ini belum ada respons,” ucap salah satu perangkat Desa Pule.
Artinya, persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama. Surat permohonan telah dilayangkan, aspirasi telah disampaikan, sementara warga masih harus menunggu realisasi.
Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan: berapa lama lagi masyarakat harus menunggu untuk mendapatkan akses jalan yang layak, terlebih jalan tersebut menuju sekolah negeri?
Akses Pendidikan Jangan Sampai Menjadi Korban Lambannya Infrastruktur
Jalan menuju sekolah semestinya mendapat perhatian serius. Infrastruktur pendidikan tidak hanya berbicara mengenai gedung sekolah, ruang kelas, maupun fasilitas pembelajaran.
Akses menuju sekolah juga merupakan bagian penting yang menunjang proses pendidikan.
Jangan sampai siswa harus berjuang melewati jalan yang rusak hanya untuk mendapatkan pendidikan di sekolah negeri.
Sindiran warga pun sampai dituangkan dalam kalimat bernada jenaka:
“Ubur-ubur iwak lele, seng sabar le, lek budal sekolah menuju SMAN 1 Pule, jalan tidak diperhatikan pemerintah, le.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar ringan, tetapi di baliknya terdapat kekecewaan yang cukup dalam.
DPUPR: Masih Proses Pelelangan
Menanggapi keluhan warga Desa Pule tersebut, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Trenggalek, Anjang Purwoko, memberikan penjelasan singkat.
“Masih proses pelelangan, Pak,” tuturnya saat dikonfirmasi.
Jawaban tersebut menjadi titik terang bahwa terdapat proses yang sedang berjalan. Namun, bagi masyarakat yang telah bertahun-tahun menunggu, keterangan “masih proses pelelangan” tentu belum menjawab seluruh keresahan.
Publik membutuhkan kepastian yang lebih konkret: kapan lelang selesai, kapan kontrak pekerjaan dimulai, kapan alat berat turun, dan kapan jalan tersebut benar-benar diperbaiki?
Terlebih saat ini sudah September 2026, sementara janji perbaikan tercantum jelas dalam spanduk di lokasi.
Warga Tak Lagi Butuh Janji, Mereka Menunggu Bukti
Pemasangan spanduk tersebut seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah, khususnya dinas terkait.
Kritik warga bukan sekadar persoalan jalan berlubang. Ini menyangkut akses masyarakat menuju fasilitas pendidikan negeri yang digunakan setiap hari oleh para pelajar.
Tulisan “Rakyat Tidak Butuh Janji-Janji, yang Penting Bukti” menjadi pesan paling jelas dari masyarakat.
Sementara gambar mulut dengan tulisan “ZONK! ZONK! ZONK!” seolah menyampaikan sindiran keras: jangan sampai janji pembangunan hanya berhenti pada kata-kata.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui DPUPR tentu perlu memberikan penjelasan secara transparan kepada masyarakat mengenai progres pembangunan tersebut.
Sebab warga Desa Pule sudah menunggu sejak bertahun-tahun lalu. Tahun 2026 pun kini tinggal menyisakan beberapa bulan.
Pertanyaannya sederhana namun mendesak:
Jika benar akan diperbaiki pada 2026, kapan jalan menuju SMAN 1 Pule benar-benar dikerjakan?
Karena bagi warga, jalan menuju sekolah bukan sekadar ruas aspal. Di sana ada anak-anak yang setiap hari mempertaruhkan kenyamanan dan keselamatan mereka untuk menuntut ilmu.
(Frn)
