
SUMENEP – Pembelajaran sejarah dan budaya lokal terasa lebih hidup bagi siswa kelas 5 SDN Pajagalan II saat mengikuti kegiatan kokurikuler di Museum Keraton Sumenep, Sabtu (8/5/2026). Puluhan siswa tampak antusias menyusuri kawasan keraton sambil mengenal langsung jejak peninggalan sejarah Kabupaten Sumenep.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari metode belajar di luar kelas yang dirancang untuk memperkenalkan warisan budaya Madura kepada para murid sejak dini. Dengan berjalan kaki menuju kompleks keraton, para siswa terlihat bersemangat mengikuti setiap rangkaian kegiatan edukasi.
Setibanya di lokasi, siswa terlebih dahulu mendapat penjelasan dari pemandu wisata mengenai aturan selama berada di area museum. Mereka juga diingatkan pentingnya menjaga benda-benda peninggalan sejarah yang memiliki nilai budaya tinggi.
Suasana belajar semakin menarik ketika para siswa memasuki ruang museum dan melihat langsung deretan foto raja-raja Sumenep yang terpajang di dinding bangunan bersejarah tersebut. Penjelasan mengenai perjalanan pemerintahan Keraton Sumenep membuat para murid tampak serius menyimak.
“Inilah foto raja-raja Sumenep sejak masa awal pemerintahan hingga perkembangan kepemimpinan daerah sampai sekarang,” ujar Aldi, pemandu wisata Museum Keraton Sumenep.Tidak hanya mendengarkan penjelasan sejarah, para siswa juga diperlihatkan berbagai koleksi peninggalan kerajaan seperti senjata tradisional, pakaian kebesaran, cermin kuno, hingga benda pusaka yang masih tersimpan rapi di museum.
Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke kawasan Labhang Mesem dan rumah panyepen yang dahulu digunakan raja sebagai tempat bersemedi. Di lokasi tersebut, para siswa tampak aktif mencatat berbagai informasi yang disampaikan pemandu.
Guru kelas 5A SDN Pajagalan II, Suryanti Novi Andriyana, mengatakan pembelajaran langsung di lapangan menjadi cara efektif untuk menambah wawasan siswa tentang sejarah daerah.
“Kami ingin anak-anak mengenal budaya dan sejarah daerahnya secara langsung agar mereka lebih memahami serta menghargai warisan leluhur,” tuturnya.
Kegiatan edukasi itu ditutup dengan kunjungan ke Taman Sare, kawasan pemandian keluarga kerajaan yang hingga kini masih terawat. Di tempat tersebut, suasana menjadi lebih santai ketika para siswa memberi makan ikan sambil menikmati keindahan taman bersejarah.
Guru pendamping, Ali Harsojo, menilai metode belajar berbasis pengalaman nyata mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal pada diri siswa.
“Belajar langsung seperti ini membuat anak-anak lebih mudah memahami sejarah dan tentunya akan lebih membekas dalam ingatan mereka,” katanya.
Pembelajaran berbasis sejarah dan budaya lokal kini dinilai menjadi salah satu pendekatan penting dalam membangun karakter generasi muda agar lebih mengenal identitas daerah sekaligus menghargai warisan budaya bangsa.