
SUMENEP – Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sumenep tahun ini menghadirkan kisah yang lebih dari sekadar seremoni. Di tengah keterbatasan, Rutan Sumenep menunjukkan bahwa kepedulian bisa menjangkau hingga ke luar tembok rutan—menyentuh langsung kehidupan keluarga warga binaan.
Melalui sebuah bantuan gerobak usaha, harapan baru diberikan kepada keluarga warga binaan pemasyarakatan (WBP). Bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa perhatian terhadap WBP tidak berhenti pada proses pembinaan di dalam rutan, tetapi juga menyasar keluarga yang turut merasakan dampak sosial dan ekonomi.
Taufik, penerima bantuan yang merupakan keluarga WBP, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Baginya, bantuan tersebut menjadi titik awal untuk bangkit dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
“Alhamdulillah, ini sangat membantu. Gerobak ini akan saya gunakan untuk berjualan ayam bumbu hitam. Semoga bisa menjadi jalan rezeki untuk keluarga kami,” ungkapnya penuh harap.
Kepala Rutan Sumenep, Aditya Wahyu Rahmadani, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pemasyarakatan yang lebih humanis dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari perubahan warga binaan, tetapi juga dari kemampuan menjaga ketahanan keluarga yang ditinggalkan.
“Kami ingin memastikan bahwa keluarga WBP tetap memiliki peluang untuk bertahan dan berkembang. Dukungan seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan kemandirian sekaligus menjaga harapan mereka,” jelasnya,
Selasa (28/04/2026).
Ia juga menambahkan, ketika keluarga dalam kondisi stabil, maka proses pembinaan terhadap warga binaan akan berjalan lebih baik karena adanya dukungan moral dan sosial yang kuat dari lingkungan terdekat.
Momentum HBP ke-62 ini menjadi refleksi bahwa pemasyarakatan tidak sekadar menjalankan fungsi hukum, tetapi juga mengedepankan nilai kemanusiaan. Kepedulian, empati, dan pemberdayaan menjadi bagian penting dalam membangun kembali kehidupan yang lebih layak.
Rutan Sumenep berharap, bantuan sederhana ini mampu menjadi pemicu perubahan yang lebih luas—mendorong kemandirian ekonomi keluarga WBP sekaligus memperkuat peran pemasyarakatan sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.